Dalam kitab Insan al-Uyun Fi Sirath al-Amin al-Ma’mun, Imam al-Halaby
mengatakan, ‘Kebiasaan berdiri pada saat orang mendengar detik kelahiran
Nabi saw disebut dalam pembacaan riwayat maulid memang merupakan
suatu bid’ah, akan tetapi itu adalah bid’ah hasanah. Khalifah Umar sendiri
menamakan shalat tarawih berjamaah sebagai suatu bid’ah yang baik. Imam
Syafii mengatakan :
Apa yang diadakan menyimpang dari kitabullah dan sunnah rasul-Nya atau
menyimpang dari pendapat umum para ulama adalah bid’ah dhalalah (sesat)
[1]. Sedang apa saja yang diadakan berupa kebajikan dan tidak menyimpang
atau menyalahi hal-hal tersebut di atas adalah bid’ah mahmudah (terpuji)’.
Dengan demikian, maka orang berdiri pada saat mendengar detik kelahiran
Nabi saw disebut, apalagi kalau perayaan maulid beliau diselenggarakan
dengan memperbanyak infaq serta sedekah, semuanya itu merupakan
kebajikan terpuji. Al-Allamah Syekh Abdullah bin Abdurrahman Siraj, dalam
surat-surat jawaban yang dikirimkan dari Makkah, atas pertanyaan-
pertanyaan yang disampaikan kepadanya, ia menegaskan,
Bahwa berdiri pada saat disebut kelahiran Nabi saw dalam peringatan
maulid adalah bid’ah hasanah, dan sudah biasa dilakukan oleh para ulama
terkemuka di pelbagai negeri Islam. Dasar alasannya ialah sikap menghargai
dan menghormati orang yang agung dan mulia adalah sikap yang baik dan
terpuji’.
Jawaban yang terang dan jelas itu dibenarkan dan dipuji oleh para ulama
Makkah pada zamannya. Di antara mereka yang terkemuka ialah al-Allamah
Syeikh Muhammad Ali bin Husein al-Maliki, al-Allamah Sayid Abbas bin
Abdul Aziz al-Maliki, seorang ulama besar yang memberikan pelajaran
agama di dalam masjid al-Haram dan datuk dari Sayid Muhammad bin Alwi
al-Maliki, mufti Makkah yang baru saja wafat. Sayid Muhammad bin Alwi al-
Maliki dalam kitabnya Haula al-Ihtifal Bi-Dzikri al-Maulid al-Nabi al-Syarif,
berkata :
‘Mengenai hadirin yang berdiri pada saat pembacaan riwayat maulid sampai
detik-detik kelahiran Nabi saw ke alam wujud, memang ada sementara orang
yang mempunyai sangkaan sangat keliru dan batil, yang sama sekali tidak
berasal dari para ulama. Sepanjang pengetahuan saya, sangkaan buruk
seperti itu hanya ada pada orang bodoh yang hadir dalam peringatan maulid
Nabi saw dan turut berdiri bersama dengan orang-orang lainnya. Sangkaan
buruk itu adalah bahwa orang-orang yang pada saat itu berdiri mengira
mempunyai kepercayaan tentang kehadiran Rasulullah saw dengan jasadnya
di dalam pertemuan itu. Sangkaan yang sangat keliru itu tambah buruk lagi
jika orang itu mempercayai kemenyan dan wewangian yang semerbak dalam
pertemuan itu diperuntukan bagi Rasulullah saw, atau mempercayai bahwa
air yang diletakkan di tengah-tengah pertemuan itu sebagai persediaan
minum bagi Nabi saw’.
Selanjutnya Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki berkata, ‘Kaum muslimin
yakin sepenuhnya bahwa beliau itu menghayati kehidupan sempurna di alam
barzah sesuai dengan kedudukannya, dan bahwa roh beliau berkelana di
alam malakut Allah swt serta dapat hadir dalam setiap pertemuan yang
bersifat kebajikan dan menyaksikan seluruh sinar hidayah cahaya ilmu.
Demikian pula arwah kaum mu’minin yang setia dan ikhlas dari kalangan
umatnya.
Imam Malik berkata, ‘Aku mendengar bahwa roh itu lepas bebas dapat pergi
ke mana saja yang dikehendaki’.
Dalam kitab al-Ruh karya Ibnu Qayyim halaman 144, Salman al-Farisi
mengatakan, ‘Arwah kaum mu’minin berada di alam barzah dekat dari bumi
dan dapat pergi ke mana saja menurut kehendaknya‘
Imam al-Shafuri al-Syafii berkata, ‘Persoalan berdiri pada pembacaan
sejarah, pada saat detik kelahiran Nabi saw, tidak ada larangan. Hal ini
merupakan bid’ah yang baik. Bahkan ada kelompok yang justru menyatakan
sunnah, dan yang lebih ekstrem malah mewajibkan shalat. Hal ini semata-
mata untuk menghormati dan memuliakan Nabi saw, dan hukum
menghormatinya adalah wajib bagi setiap mukmin. Maka jelaslah sudah
hukum tentang berdiri tersebut, hal itu hanyalah merupakan penghormatan
dan kemuliaan…’
Al-Barjanzi salah seorang penulis kitab riwayat maulid Nabi saw
mengatakan, ‘Berdiri pada saat disebut kelahiran Nabi saw yang mulia itu
dipandang baik oleh para Imam ahli riwayat yang memiliki pandangan batin.
Oleh karena itu maka bahagialah orang yang dengan mengagungkan
kebesaran Rasulullah saw berhasil mencapai maksud dan tujuan yang
diinginkan.
Setelah menjelaskan panjang lebar dalil-dalil syar’i yang memandang berdiri
dalam peringatan maulid itu sebagai bid’ah hasanah, syaikh Abdullah bin
Abdurrahman Siraj kemudian melanjutkan, ‘Alhasil, berdiri pada saat
kelahiran Nabi saw disebut dalam peringatan maulid telah menjadi syi’ar
bagi Ahlu Sunnah Wal Jamaah, sehingga meninggalkan kebiasaan hormat
seperti itu dapat dianggap sebagai mengada-ada. Kebiasaan yang baik itu
tidak patut ditinggalkan dan tidak dapat dilarang, bahkan sikap yang hendak
meninggalkan atau melarangnya dapat dianggap sebagai tindakan
meremehkan Nabi Muhammad saw. Itulah sebabnya al-Maula Abu al-Su’ud
al-Imady memfatwakan, bahwa orang harus merasa khawatir berbuat
kekufuran bila pada saat orang-orang lain berdiri, ia sendiri duduk tak mau
turut berdiri’.
Orang yang hadir berdiri hanya sebagai penghargaan dan penghormatan
kepada kebesaran dan keagungan pribadi Rasulullah saw yang terbayang di
dalam fikirannya. Itu merupakan soal biasa. Oleh karena itu, orang yang
tidak turut berdiri tidak terkena dosa apapun. Memang benar, sikapnya yang
tidak mau turut berdiri itu tentu akan dipandang sikap seorang yang tdak
mengenal tatakrama, tidak mempunyai perasaan halus. Sama halnya dengan
orang yang tidak mengindahkan adat kebiasaan yang berlaku dan telah
disepakati oleh orang banyak.
Adapun dalil-dalil yang mendukung kebaikan dari sikap berdiri pada saat
disebut kelahiran Nabi saw, pertama, soal berdiri itu sudah lazim berlaku di
kalangan kaum muslimin di berbagai pelosok negeri di dunia dan telah
dipandang baik oleh para ulama di Timur dan di Barat. Tujuannya ialah
menghormati kebesaran pribadi yang sedang diperingati maulidnya. Apa
yang dipandang baik oleh kaum muslimin adalah baik di sisi Allah swt, dan
apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin pun buruk pula di sisi Allah
swt. Sebagaimana hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin
Hanbal :
‘Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, hal itu baik di sisi Allah, dan
apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, hal itu pun buruk di sisi
Allah swt.
Kedua, Para ahlu al-Fadhl (ulama yang terkemuka) memandang berdiri pada
saat kelahiran Nabi saw disebut sebagai ketentuan syariat. Mereka
memperkuat pandangan itu dengan berbagai dalil yang berdasarkan sunnah
rasul.
Ketiga, Dalam sebuah hadits yang disepakati oleh para ahli hadits disebutkan
bahwa dalam khutbahnya yang ditujukan kepada kaum Anshar, Rasulullah
saw bersabda, ‘Hendaklah kalian berdiri untuk menghormati pemimpin
kalian’. Yang dimaksud pemimpin oleh beliau saw adalah Saad. Perintah
beliau itu hanya terbatas bagi sebagian orang.[2]
Keempat, Sudah menjadi kearifan Rasulullah saw, beliau selalu berdiri
menghormati setiap orang yang datang kepada beliau. Seperti yang
dilakukan beliau pada saat kedatangan puterinya, Siti Fathimah al-Zahra.
Dalam hal ini beliau mengakui terus terang bahwa beliau berdiri itu untuk
menghormati puteri beliau. Selain itu, sebagaimana telah disebutkan bahwa
beliau saw juga memerintahkan orang-orang Anshar suapaya berdiri
menghormati kedatangan pemimpin mereka, Saad. Semuanya menunjukkan
bahwa berdiri sebagai salah satu bentuk penghormatan merupakan
ketentuan syariat. Sehubungan dengan itu jelaslah bahwa pribadi Rasulullah
saw jauh lebih berhak daripada pemimpin mana pun juga.
Kelima, ada yang mengatakan bahwa hal itu, Nabi saw lakukan ketika masih
hidup dan langsung di depan beliau. Sedangkan dalam peringatan maulid
Nabi tidak ada di depan kita. Jawabnya, pembaca riwayat maulid Nabi
Muhammad saw mengetengahkan kisah kehadiran Rasulullah saw yang
datang ke alam jasmani (alam wujud) ini dari alam nurani, tempat beliau
berada jauh sebelum waktu kelahirannya. Lebih lanjut kisah itu
menceriterakan kelahiran beliau saw yang saat ini sudah tidak ada lagi di
tengah-tengah kita. Dengan demikian maka kehadiran pribadi agung di
tengah-tengah kita ini lebih banyak bersifat bayangan daripada sifat beliau
yang sesungguhnya, karena beliau saw sudah tidak berada di tengah-tengah
kehidupan alam dunia. Kisah atau riwayat yang menghadirkan pribadi beliau
secara ruhani, diperkuat kebenarannya oleh kenyataan bahwa Rasulullah
saw seorang manusia agung yang berakhlaq sebagaimana dikehendaki oleh
Tuhannya. Sehubungan dengan itu Rasulullah saw bersabda dalam sebuah
hadits qudsi, ‘Aku menemani orang yang menyebutku’. Dalam riwayat lain
beliau bersabda, ‘Aku bersama orang yang menyebutkan’. Tujuan dan
maksud kehidupan beliau yang senantiasa bertauladan kepada Tuhannya dan
berakhlaq sebagaimana yang dikehendaki oleh-Nya ialah agar beliau dapat
selalu menyertai orang yang menyebut roh beliau saw di tempat mana saja.
Begitu pula ketika kita membaca lafadz tahiyat ketika melakukan ibadah
shalat, dengan berkata, Assalamu’alaika ayyuhan nabi warahmatullahi
wabarakatuh, nabi yang kita beri salam jasadnya tidak hadir di depan kita.
Dengan demikian maka orang yang menyebut kehadiran Rasulullah saw
secara ruhani akan lebih besar bertambah khidmat dan hormat dalam
mengagungkan kebesaran junjungan kita Nabi Muhammad saw.